iden sipp@ui.ac.id dan humas-ui@ui.ac.id +62 21 786 7222

Guru Besar Sampaikan Strategi Penanganan Penyakit Jamur Melalui Diagnosa Cepat dan Kolaborasi Multisektor

Salemba, 14 Desember 2024. Universitas Indonesia (UI) mengukuhkan Prof. Dr. dr. Anna Rozaliyani, M.Biomed, Sp.P(K)., sebagai guru besar dalam bidang Mikosis Fakultas Kedokteran (FK) di Aula IMERI FKUI, Kampus UI Salemba, pada Sabtu (14/12). Dengan membawakan pidato pengukuhan yang berjudul “Penyakit Jamur Sebagai Ancaman Kesehatan Global Tersembunyi: Pentingnya Upaya Meningkatkan Kewaspadaan, Uji Diagnosis Cepat, dan Kolaborasi Multisektor di Indonesia”, Prof. Anna merupakan guru besar ke-41 UI yang dikukuhkan pada 2024.

Ia menyampaikan, semenjak Pandemi COVID-19, pola penyebaran penyakit di seluruh dunia telah berubah, termasuk infeksi jamur. Setiap tahun, lebih dari satu miliar orang dilaporkan menderita infeksi jamur, dengan sekitar 6,5 juta di antaranya merupakan infeksi jamur invasif yang menyebabkan sekitar 2,5 juta kematian. Angka kematian ini sama tingginya atau bahkan melebihi penyakit serius lainnya seperti malaria dan tuberkulosis.

Lebih lanjut Prof. Anna menjelaskan, jamur adalah mikroorganisme yang bisa ditemukan di berbagai tempat, penyakit yang disebabkan oleh jamur disebut mikosis, dan ilmu yang mempelajarinya disebut mikologi. Infeksi jamur dianggap tidak berbahaya, tetapi infeksi jamur invasif terbukti menyebabkan kesakitan dan kematian pada pasien dengan gangguan sistem imun secara eksogen maupun endogen.

“Dari sekitar 3,8 juta spesies jamur di seluruh dunia, sekitar 300 spesies dapat menyebabkan penyakit pada manusia. Infeksi dapat terjadi secara eksogen, yaitu terjadi dengan masuknya elemen jamur dari lingkungan luar ke dalam tubuh manusia melalui kontak, kulit cedera, atau perkutan. Dapat pula secara endogen, yaitu berasal dari jamur yang semula berada di tubuh alamiah atau mikrobiota residen, seperti Candida albicans,” ujar Prof. Anna.

Mikosis invasif umumnya terjadi pada individu dengan faktor risiko tertentu atau memiliki penyakit dasar yang menyebabkan gangguan sistem kekebalan atau daya tahan tubuh. Prof. Anna menekankan bahwa penyakit jamur dapat menjadi ancaman kesehatan global dengan beberapa faktor pendorong, seperti perubahan iklim, gaya hidup manusia tidak sehat, infeksi HIV ODHIV/AIDS, dan minimnya laporan spesies jamur resistan obat antijamur

“Terdapat tantangan dalam diagnosis dini penyakit jamur, yaitu gejala yang tidak khas atau menyerupai penyakit lain, keterbatasan ketersediaan laboratorium khusus jamur dan tenaga medis terlatih, dan waktu yang lama serta keahlian khusus pada metode diagnosis, seperti biakan jamur,” kata Prof. Anna. Selain itu, kondisi lingkungan Indonesia yang hangat dan lembab sebagai negara tropis sangat mendukung pertumbuhan jamur.

Strategi Mengatasi Penyakit Jamur di Indonesia
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Prof. Anna mengatakan bahwa diperlukan strategi komprehensif. Pengembangan diagnosis penyakit jamur harus dikembangkan dengan adanya POCT (point-of-care testing), yaitu pemeriksaan laboratorium yang dilakukan di dekat pasien, di luar laboratorium sentral. Teknologi diagnostik yang berkembang, seperti POCT, telah mengubah praktik klinis dengan menyediakan tes yang cepat, tepat waktu, mudah digunakan, dan dapat dilakukan di dekat pasien (bed-side test).

Uji diagnostik yang cepat dan akurat juga sangat dibutuhkan untuk mengurangi beban penyakit jamur di seluruh dunia. Uji cepat ini harus memenuhi kriteria World Health Organization (WHO), yaitu terjangkau, sensitif, spesifik, mudah digunakan, cepat/tangguh, tidak memerlukan peralatan, dan dapat diterapkan kepada pengguna akhir (ASSURED). Kriteria ini diperluas menjadi REASSURED dengan tambahan real-time connectivity dan kemudahan pengambilan spesimen. POCT memungkinkan respons cepat terhadap pengobatan penyakit jamur progresif serta untuk investigasi dan pencegahan wabah.

“Kolaborasi multisektor serta upaya komprehensif juga merupakan kunci keberhasilan mengatasi tantangan penyakit jamur. Selain itu, kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan pribadi dan lingkungan perlu ditingkatkan, termasuk memperbaiki gaya hidup melalui PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat). Dengan demikian semua pihak dapat mendukung upaya penanganan penyakit jamur di Indonesia,” ujar Prof. Anna.

Ia menambahkan, upaya meningkatkan kesadaran tentang penyakit jamur melalui sosialisasi situasi terkini, hasil penelitian, dan advokasi kepada pemerintah serta pemangku kebijakan juga sangat penting dilakukan. Penyusunan pedoman nasional atau konsensus bersama terkait standar diagnosis dan pengobatan yang terintegrasi dan sesuai dengan kondisi lokal sangat diperlukan. Selain itu, pembuatan Pedoman Nasional Praktik Klinis (PNPK) dan Pedoman Praktik Klinis (PPK) di rumah sakit menjadi tolok ukur penting untuk menjaga kualitas diagnosis dan pengobatan yang memadai bagi penyakit jamur.

Sampai dengan saat ini, Prof. Anna terus berperan aktif dalam publikasi riset. Beberapa penelitian yang telah dilakukannya berjudul “Expert Panel Recommendations on the Clinical Practice Guidelines for the Diagnosis and Management of Invasive Candidiasis in Indonesia” (2024); “The Fungal and Bacterial Interface in the Respirator Mycobiome with a Focus on Aspergillus Spp” (2023); dan “Mortality COVID-19 in Jakarta and the Involvement of the Weather” (2023).

Prof. Anna telah menyelesaikan seluruh studinya di FKUI, yaitu Studi Pendidikan Kedokteran pada 1997, Program Studi Magister Ilmu Biomedik pada 2004, Program Studi Spesialis Pulmonologi pada 2008, dan meraih gelar Doktor S3 Ilmu Kedokteran pada 2015. Kariernya sebagai pengajar tetap di FKUI dimulai sejak 1997 dan saat ini beliau juga menjabat sebagai Ketua Departemen Parasitologi FKUI serta Dokteer Penanggung Jawab Pasien (DPJP) di RS UI.

Related Posts