Komisaris Jenderal Polisi (Komjen Pol.) Drs. Suhardi Alius, M.H. selaku Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) memberikan kuliah umum pada salah satu rangkaian acara Kegiatan Awal Mahasiswa Baru (Kamaba) Universitas Indonesia (UI) yang digelar di Balairung, Kampus UI, Depok, Jumat (24/8/2018).
Dalam kegiatan tersebut, Kepala BNPT memaparkan materi kepada para mahasiswa baru (maba) dengan tema Upaya Pencegahan Radikalisme dalam Rangka Menjaga Kebinekaan dan Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Pada acara yang dimulai sekitar pukul 08.00 itu, Komjen Pol. Suhardi mengajak para maba untuk melawan radikalisme.Dalam hal ini, Kepala BNPT yang dilantik pada 2016 lalu oleh Presiden Joko Widodo tersebut menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan radikalisme adalah suatu paham pemikiran yang intoleransi, anti-Pancasila, anti-NKRI, dan paham-paham yang merusak kebangsaan.
Selain itu, pada kesempatan tersebut, Komjen Pol. Suhardi juga memberikan beberapa contoh kasus radikalisme yang disebarkan oleh kelompok Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) di Indonesia.Menurutya, kelompok Islam radikal yang menyebarkan pahamnya di Indonesia saat ini sudah sangat canggih dalam memanfaatkan teknologi untuk memprovokasi masyarakat.
“Mereka punya divisi teknologi. Mereka menerapkan pola baru, yaitu siber jihad dengan menyebarkan situs-situs radikal yang mudah diakses,” ujarnya.
Selanjutnya, Komjen Pol. Suhardi memaparkan bahwa tempat ibadah dan lembaga pendidikan menjadi tempat-tempat yang digunakan untuk menyebarkan paham radikal. Dengan mengacu pada survei, menurutnya, banyak pelaku teror yang berasal dari pendidikan tinggi. Berkaitan dengan berbagai upaya untuk melawan radikalisme, Komjen Pol. Suhardi memberi arahan kepada para mahasiswa baru,
“Lihat betul. Kalian juga bisa jadi target. Jika ada yang bikin kelompok eksklusif yang sudah ada tanda-tanda yang orang lain gak boleh masuk, tolong laporkan, jangan takut-takut. Laporkan ke dosen, dekan, atau rektor agar cepat ditangani. Jangan biarkan temen kalian terjerumus,” tuturnya.
Menurut Komjen Pol. Suhardi, mahasiswa merupakan salah satu elemen penting dalam melawan radikalisme.Sivitas akademika berperan sangat besar karena memiliki sense of critical untuk melihat tanda-tanda radikalisme yang berkembang di sekitar masyarakat.