Ternyata bukan hanya Indonesia yang mempunyai budaya wayang. Republik Rakyat Tiongkok (RRT) juga punya kesenian serupa yang dikenal dengan Wayang Fujian. Wayang Fujian berasal dari Provinsi Fujian di wilayah selatan daratan Tiongkok. Pada 2012, Wayang Fujian ditetapkan sebagai warisan seni dan budaya dunia tak benda oleh UNESCO.
Untuk melestarikan dan mengenal Wayang Fujian, sejak 2006 pemerintah Tiongkok telah mendirikan beberapa pusat pelatihan untuk meningkatkan kemampuan para dalang. Pusat pelatihan ini juga memberikan bantuan dana untuk para seniman yang bergerak dalam kesenian Wayang Fujian.
Guna mempopulerkan kesenian tersebut di Indonesia, China National Arts Fund Administration International Training for Intangible Cultural Heritage in the Asia-Pasific menggelar pertunjukan Wayang Fujian di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI, Selasa (12/5/2015) lalu.
“Wayang di Cina dan Indonesia punya fungsi yang hampir mirip. Keduanya memberikan nilai-nilai yang dapat menjadi tuntunan buat masyarakat,” ujar Dekan FIB UI, Dr. Adrian L. G. Waworuntu, M.A dalam sambutannya.
Dalam acara tersebut, kelompok Quanzhou Marrionette Drama, Jinjiang Hand Puppet Art Heritage Protection Centre dan Zhangzhou Puppetry Tropue tampil bergantian. Salah satu lakon menarik yang dibawakan adalah tentang seorang nenek yang bermimpi menjadi muda kembali. Sang dalang berhasil memukau penonton dengan kelihaian jemari tangannya menjadikan boneka perempuan tersebut seakan hidup.
“Mereka adalah seniman yang handal, telah berlatih selama sepuluh tahun dan telah mendapatkan berbagai macam penghargaan nasional maupun internasional,” tutur salah satu delegasi dari Fujian dalam pemaparannya setelah pementasan.
Hal tersebut juga disetujui oleh Muhammad Firdaus, mahasiswa FIB UI yang hadir di acara tersebut. Menurutnya, hal yang paling menarik dari pertunjukan Wayang Fujian, terletak pada kelihaian dalang memainkan tali untuk mengontrol si boneka.
“Wayang Fujian punya keistimewaan dalam detail. Kelihaian dalang memainkan tali membuat boneka seakan benar-benar hidup. Wayangnya bisa menggenggam cangkir, memegang pedang, lalu memasukannya kembali ke sarungnya, itu keren banget,” katanya.
Penggunaan tali sebagai alat kontrol boneka, juga menjadi pembeda antara wayang golek Indonesia dan Fujian. Apabila wayang golek Indonesia menggunakan batang sebagai alat kontrol, wayang Fujian menggunakan tali yang terhubung ke boneka. Ada sekitar 30 tali untuk mengontrol seluruh tubuh wayang Fujian.
Sebelum menyambangi UI, rombongan wayang Fujian telah tampil di Taman Mini Indonesia Indah dan Universitas Padjajaran. UI menjadi tujuan terakhir rombongan, sebelum kembali ke Tiongkok.
Penulis : Rosseno Aji