Depok, 8 Oktober 2024. Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, Budi Arie Setiadi, dalam Kuliah Umum dan Pelantikan Trainer Program “Cerdik” di Universitas Indonesia (UI), menggarisbawahi pentingnya literasi digital untuk menghadapi ancaman siber yang makin meningkat. Acara yang dilangsungkan Senin pagi (7/10) di Auditorium Gedung 1 Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI, Kampus Depok, ini menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi oleh para pengguna internet, terutama generasi muda.
“Layaknya pedang bermata dua, internet juga membawa ancaman bagi para penggunanya. Beberapa tantangan diantaranya berupa ancaman kejahatan siber, pelanggaran terhadap privasi, peretasan, pencurian data pribadi, serta penyebaran disinformasi,” ujar Budi Arie, mengingatkan akan pentingnya kesadaran akan ancaman ini. Dengan jumlah pengguna media sosial di Indonesia yang terus bertambah hingga 139 juta orang pada awal 2024, ancaman tersebut semakin relevan terutama bagi remaja di bawah usia 18 tahun.
Lebih lanjut, Budi Arie menjelaskan bahwa kelompok usia muda sangat rentan terhadap bahaya konten negatif di dunia maya. “Generasi muda menjadi kategori yang rentan terhadap konten negatif, cyberbullying, dan eksploitasi online. Riset menunjukkan, dalam satu tahun terdapat sekitar 500.000 anak di Indonesia menjadi korban seksual dan perlakuan yang salah di internet,” ujarnya mengajak peserta untuk turut serta melindungi generasi muda dari bahaya ini.
Pada kesempatan yang sama UI melalui Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya (PPKB) memperkenalkan program “Cerdik”, sebuah program literasi digital yang bertujuan untuk mendidik dan membekali masyarakat, termasuk para guru dan mahasiswa, dengan kemampuan digital yang komprehensif. Dekan FIB UI, Dr. Bondan Kanumoyoso, S.S., M.Hum., menyatakan bahwa literasi digital tidak hanya sekadar kemampuan teknis, tetapi juga mencakup kemampuan kritis dalam menggunakan teknologi untuk komunikasi yang efektif.
“Literasi digital bukan hanya sekadar kemampuan untuk menggunakan perangkat teknologi, tetapi juga meliputi kemampuan untuk mencari, mengevaluasi, menggunakan, membuat, dan berkomunikasi secara efektif menggunakan teknologi digital. Di era informasi seperti sekarang, literasi digital menjadi sebuah keharusan bagi setiap individu, termasuk para pendidik,” ujar Dr. Bondan, menekankan peran penting literasi digital bagi setiap individu.
Program ini juga memperkenalkan pelatihan Training of Trainer (ToT) “Cerdik” untuk peserta dari wilayah Jabodetabek serta mahasiswa UI yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa Fact Checker. Kepala PPKB FIB UI, Lily Tjahjandarie, Ph.D., menambahkan bahwa program ini merupakan langkah signifikan dalam mempersiapkan masyarakat yang bijak di dunia digital. “Program ‘Cerdik’ diharapkan menjadi tonggak penting dalam membangun masyarakat yang lebih peka terhadap isu-isu digital dan informasi,” katanya.
Dengan diluncurkannya program ini, UI berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan literasi digital, yang diharapkan dapat menciptakan generasi yang cerdas dan bijak dalam menyikapi informasi di era digital.
Tentang PPKB FIB UI:
Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya (PPKB) FIB UI adalah unit penelitian di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia yang bergerak dalam berbagai bidang kajian sosial dan budaya. Kegiatan PPKB meliputi penelitian, pelatihan, seminar, dan publikasi yang melibatkan berbagai disiplin ilmu, seperti sosiologi, antropologi, sejarah, dan lainnya.